Pada awalnya aku tak mengerti apa yang terjadi pada diriku. Begitu banyak pertanyaan yang aku sendiri pun tidak dapat menjawabnya. Aku adalah seorang wanita yang hidupnya ya bisa dibilang selalu ceria dan selalu penuh dengan senyuman dibibirnya. Sebut saja aku TB. Awalnya semua baik-baik saja dan tidak berfikir akan menjadi seperti ini bahkan bermimpi pun tidak karena aku tidak berani untuk memulai sesuatu yang pada akhirnya ga bisa aku selesaikan. Sahabat ku, dia sahabat terbaik yang aku punya. Dia selalu ada untukku dengan apapun keadaan ku entah senang sedih bahagia kecewa tapi dia selalu setia menemani ku selalu siap menjaga ku. Dia sangat memperhatikan segalanya dari diriku tidak pernah ada yang terlewat sedikitpun dari pengawasannya. Sejak dulu dia memang sayang diriku bahkan sangat sayang tapi dulu kukira itu semua bentuk rasa sayang dia karena dia menganggapku sebagai seorang adik yang memerlukan kasih sayang dari seorang kakak.  Segala bentuk perhatiannya kuanggap sebagai rasa sayang dia terhadap adiknya sendiri karena dia memang tidak mempunyai adik. Sudah hampir 8 tahun ini kebersamaan di antara kami tetap terjalin erat dan aku sudah benar-benar menganggap dia sebagai kakakku tapi entah mengapa setahun belakangan ini aku merasakan sesuatu yang berbeda dari dirinya, ya rasa sayang dan perhatiannya terhadap ku. Dan pada saatnya aku mengalami depresi karna tak mampu lagi untuk menyimpan semuanya sendiri, karna mungkin semuanya tidak dapat kusimpan apa yang aku rasa.

Dia datang, disaat aku benar-benar butuh sandaran untuk tempatku menangis. Menangisi keterpurukan atas masalah-masalah yang sedang ku hadapi. Awalnya aku memilih untuk tetap menyimpan itu semua seorang diri tapi ternyata aku adalah seorang wanita yang lemah aku tidak setegar batu karang yang ada dilaut sana yang kuat walau diterpa ombak sekencang apapun. Tapi, dia datang disaat kerapuhan itu menghampiriku saat aku tak kuat untuk bisa berdiri diatas kaki ku sendiri. Dia berikan semuanya kepadaku bahkan dengan segala cara dia lakukan dan berusaha untuk membuat ku bangkit dari keterpurukan ku sendiri untuk aku bisa berdiri diatas kaki ku sendiri LAGI. Dia lakukan banyak cara untuk mengembalikan senyum dibibirku, berusaha untuk senyum itu tidak akan pernah hilang untuk kesekian kalinya untuk tidak akan pernah pergi dari bibirku. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa memulihkan itu semua di diriku, dan seiring jalannya waktu aku merasakan kenyamanan yang begitu dalam terhadapnya. Kenyamanan yang tidak pernah bisa aku mengerti sebenarnya kenyamanan itu aku dapat dari mana??? Dan pertanyaan itupun mulai datang silih berganti dikepalaku. Bertanya tanpa tau jawaban apa yang benar-benar memang aku butuhkan buat diriku sendiri. Tapi. semakin aku bertanya malah aku tidak dapat apa-apa untuk menjawab semuanya dan itu membuatku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi terlebih terhadap perasaanku, hatiku sendiri. Semakin aku menolak dan mengabaikan semua rasa yang ada semakin aku tau kalau rasa itu adalah rasa sayang, sayang terhadap dirinya. Banyak hal yang kulakukan untuk tidak membuat rasa itu berkembang didalam hatiku, tapi lagi dan lagi aku tidak berhasil untuk menepis semua itu bahwa aku hanyalah seorang manusia biasa yang tidak mampu untuk menghindari sesuatu hal yang pada dasarnya tidak boleh aku hindari. Aku tau aku salah karena aku mencoba untuk menolak rasa itu rasa yang seharusnya semua orang bahagia karena bisa diberi kesempatan untuk bisa merasakannya, rasa yang seharusnya membuat semua orang bahagia karenanya. Tapi, lain halnya dengan diriku. Aku sayang dia, aku nyaman berada dekat dengannya dan selalu ingin bersamanya, aku ingin sekali menghabiskan waktuku hanya bersamanya. Tapi, entah mengapa semua itu rasanya tidak mungkin terjadi diantara kita. Aku merasa ada banyak hal yang membatasi dan menghalangi kami untuk bisa bersatu seperti tembok yang berdiri tegak dan tinggi yang aku dan dia tidak bisa untuk menjangkau hingga sampai tempat yang tertinggi dari tembok itu untuk dapat bisa bertemu dan bisa saling duduk berdampingan diatasnya. Dan karena itu pula sering sekali terjadi konflik di antara kami yang bisa membuat semua itu berujung pada perpisahan. Semula dia memilih untuk pergi dari kehidupanku dan tidak mau peduli dengan semua hal yang ada pada diriku, dan itu menyakitkan untukku. Seperti kehilangan sesuatu hal yang terpenting dalam hidup. Dan untuk itu aku berusaha untuk bisa menerima segala keputusan yang pahit sekalipun untuk diriku, tapi tak pernah terfikirkan sedikitpun kalau aku akan kehilangan sosok yang berarti dalam hidupku. Setelah menunggu lama akhirnya aku bisa merasa lega, karena ternyata aku tidak akan pernah kehilangan dia kehilangan orang yang aku sayang. Dia memilih untuk tetap terus ada untukku, untuk tetap terus selalu menjagaku. Dan cintai aku dengan tetap selalu menjagaku, untuk tetap ada selalu untukku, untuk tetap menjadi sahabat terbaikku dan yang terakhir untuk tetap menjadi seorang kakak yang terbaik yang pernah aku miliki didunia. Karena dia duniaku lebih berwarna, bahwa hidupku akan terus tetap berwarna bila dia disampingku. Dan akhirnya aku BAHAGIA mendengar itu.